Budidaya Bambu Hitam | Gigantochloa Atroviolacea

Ada dua genus bambu hitam. Pertama Genus Phyllostachys yang merupakan bambu hitam sub tropis, dan sudah dibudidayakan di RRC, Jepang, dan Korea. Kedua Genus Gigantochloa merupakan bambu hitam tropis yang banyak tumbuh di kawasan Indonesia, namun belum dibudidayakan secara khusus.

Bambu hitam sub tropis adalah Phyllostachys Nigra, masih satu genus dengan bambu kuning (Pring Gading, Phyllostachys Aureosulcata), yang berasal dari kawasan sub tropis Asia. Sementara bambu hitam tropis adalah Gigantochloa Verticillata masih satu genus dengan bambu strip (bambu hijau bergaris-garis vertikal kuning, Gigantochloa Maxima). Bambu hitam sub tropis Phyllostachys Nigra, juga sudah diintroduksi ke Indonesia sebagai tanaman koleksi, antara lain terdapat di kebun raya Bogor. Sementara bambu kuning yang juga berasal dari kawasan sub tropis, sudah banyak tumbuh di halaman rumah masyarakat Indonesia.

Bambu hitam Gigantochloa Verticillata maupun Phyllostachys Nigra, sama-sama bisa tumbuh sampai 30 m, merupakan bahan bangunan, meubel, anyaman dan bahan kerajinan lainnnya. Sebenarnya warna kulit batang bambu hitam bukan hitam legam, melainkan ungu kehitaman. Di masyarakat Jawa, warna ini disebut “wulung”. Hingga bambu hitam juga dikenal dengan sebutan “pring wulung”. Sebenarnya, pada kulit bambu hitam juga terdapat strip (garis-garuis vertikal), dengan warna lebih muda, seperti halnya pada bambu strip Gigantochloa Maxima. Hanya strip-strip pada bambu hitam tidak terlalu mencolok seperti halnya pada bambu strip Gigantochloa Maxima.

Tekstur serat bambu hitam juga sangat baik, dan kuat. Hingga bambu ini felksibel sebagai bahan bangunan, misalnya saung (gazebo) di resor mewah. Mulai untuk tiangnya, dindingnya (sebagai anyaman), sebagai meubel (meja, kursi, dan sofa), maupun sebagai asesori (kap lampu). Nilai bambu hitam menjadi cukup tinggi, karena penampilannya yang menarik, teksturnya lentur, seratnya kuat, dan yang paling penting juga karena ketersediaannya yang terbatas. Di Jepang dan RRC bambu hitam Phyllostachys Nigra sudah dikebunkan secara massal. Di Indonesia, bambu hitam Gigantochloa Verticillata masih tumbuh liar di kebun-kebun rakyat, dan populasinya makin menyusut.

Padahal budidaya bambu hitam tidak hanya sekadar menghasilkan bambu, melainkan juga rebungnya. Rebung bambu hitam Phyllostachys Nigra maupun Gigantochloa Verticillata sama-sama enak. Rasanya manis, teksturnya renyah, dengan aroma khas rebung. Rebung yang selama ini dianggap paling enak adalah rebung bambu betung (Dendrocalamus Asper). Nomor dua rebung bambu hitam Gigantochloa Verticillata. Budidaya bambu hitam di Jepang dan RRC, bukan sekadar untuk menghasilkan batang bambu tua, melainkan juga untuk memproduksi rebung sebagai komoditas sayuran. Rebung dari kebun bambu di RRC dan Jepang bukan hanya dipasarkan segar, melainkan juga dikalengkan.

Selama ini, budidaya bambu hitam di Indonesia sulit untuk dimasalkan, antara lain karena masalah benih. Budidaya bambu di negeri kita masih menggunakan benih bonggol yang berukuran besar, berat, dan sulit mengambilnya dari rumpun bambu. Bonggol bambu untuk benih, harus berupa satu bonggol, dengan satu tunggul (batang bambu yang sudah ditebang). Pengambilan bonggol dari rumpun bambu yang lebat, merupakan kendala pengadaan benih. Di Jepang, RRC, bahkan juga di Thailand, budidaya bambu sudah menggunakan benih dari ranting. Caranya, pada pangkal ranting yang menempel ke batang bambu, dipasang moss yang sudah dibungkus plastik, dan diikatkan ke batang dengan erat.

Dalam jangka waktu sekitar satu bulan, pada pangkal ranting yang dipasangi moss itu akan tumbuh akar. Mula-mula akar yang tampak dari luar plastik pembungkus moss berwarna putih. Tidak seberapa lama kemudian, akar itu akan berwarna kecokelatan. Setelah akar berwarna cokelat, ranting itu bisa diambil dari batangnya, bagian atasnya dipotong lalu disemai dalam polybag. Teknik memperbanyak benih seperti ini, oleh masyarakat Indonesia populer disebut “mencangkok”, dan sudah banyak dipraktekkan pada perbanyakan benih salak pondoh. Cara inilah yang paling ideal dilakukan untuk memperbanyak benih bambu.

Semaian benih bambu dalam polybag, baru bisa dipindahkan ke lapangan, pada umur antara 3 sd 4 bulan. Usahakan penanaman benih di lapangan pada awal musim penghujan. Hingga pada musim kemarau, tanaman bambu sudah cukup kuat. Pada awal musim penghujan, tanaman muda ini sudah akan menumbuhkan rebung bambu yang masih berukuran sangat kecil. Umur dua sampai dengan tiga tahun, tanaman bambu dari benih ranting ini, sudah menjadi rumpun bambu biasa, dengan ukuran batang yang juga normal. Sejak itulah panen rebung secara rutin bisa dilakukan. Ada beberapa teknik pemanenan rebung.

Pertama, semua rebung dalam satu rumpun diambil. Ini dilakukan pada penanaman bambu dengan jarak rapat. Secara periodik, misalnya selang tiga tahun, salah satu rebung dipelihara, kemudian bambu tua ditebang. Penebangan bisa dilakukan secara bertahap (tebang pilih), bisa serentak dengan pembongkaran lahan. Cara kedua, dengan memelihara tiga sampai dengan lima batang bambu tua dalam satu rumpun. Apabila tiap tahun salah satu batang itu ditebang, maka tiap tahun juga harus disisakan satu rebung agar tumbuh menjadi bambu tua. Penebangan bambu harus dilakukan sesaat setelah rebung tumbuh menjadi batang bambu.

Sebab ketika itulah cadangan gula dalam batang bambu habis, hingga resiko bambu diserang hama bubuk bisa dihindari. Budidaya bambu hitam dengan benih asal ranting banyak keuntungannya. Pertama, benih bisa diproduksi secara massal dan mudah. Kedua, pengangkutan benih ke lokasi penanaman juga bisa menjadi sangat murah, dibandingkan dengan benih dari bonggol bambu. Selama ini, ekspor meubel dan kerajinan bambu kita terutama ke Uni Eropa cukup bagus. Bahan meubel itu terutama bambu hitam, bambu strip dan juga bambu tutul (Bambusa Maculata). Hingga budidaya tiga jenis bambu ini, menjadi berprospek sangat menarik.

Sumber : Foragri